Oleh: ilowirawan | April 14, 2008

Kunjungan Lapangan ke Wonosobo

diengSabtu tanggal 12 April 2008 kemarin, warga SIMKES 2007 mengadakan kunjungan lapangan yang memang merupakan salah satu agenda dari pengelola Simkes (pendidikan) ke Dinas Kesehatan dan Kessos Kabupaten Wonosobo, Jateng. Dengan menggunakan 4 mobil seluruh warga ditambah dengan sebagian staf SIMKES Mbak Estu, Mbak Nia, Momon, dan Mas Tomy berangkat pukul 07.00. Agak meleset dari jadwal semula yang direncanakan pukul 06.00 WIB yang harusnya sudah berangkat. Penyebabnya….biasa, jamnya para warga pada terbuat dari karet (atau karetnya yang terbuat dari jam ya…) Sayangnya tidak ada dari perwakilan dosen yang menyertai kami ke sana, sehingga kurang lengkap rasanya. Tapi it’s no problem, wong acarnya nggak terlalu serius dan kita juga sudah pada tua-tua, apalagi rencananya akan dilanjutkan dengan wisata ke Dataran Tinggi Dieng. Jadi yaa…. Acaranya santailah…..

Karena sudah cukup siang sampai di Wonosobo. kunjungan diawali ke salah satu puskesmas yang ada di dekat kota yaitu Puskesmas Mojotengah. Hal tersebut dilakukan mengingat hari itu hari Sabtu dan dikawatirkan Puskesmas keburu tutup, baru dilanjutkan ke Dinkes kembali untuk melakukan diskusi dengan Kepala Dinas dan pengelola SIK di Kabupaten. Diskusi menempati ruang Aula Dinkes dan Kessos yang cukup besar dan mampu menampung seluruh warga SIMKES 2007 ditambah beberapa staf dinas.

Tujuan kunjungan tak lain adalah untuk melihat dari dekat sistem informasi kesehatan yang telah dibangun sejak awal tahun 2007. Berdasarkan informasi yang disajikan, anggaran yang telah disediakan untuk membangun sistem tersebut sebesar 2,5 M yang diperuntukkan bagi pengadaan komputer dengan peripheralnya, content dan tentu saja untuk membuat software dan jaringan. Dana tersebut sebenarnya telah dialokasikan sejak tahun 2006, namun pengerjaanya baru dapat dilakukan awal 2007, dan dalam project tersebut Dinkes dan Kessos Wonosobo menggandeng SIMKES UGM untuk membangun SIK-nya.


IMAG0012Selanjutnya untuk pemeliharaan selama sistem berjalan telah dialokasikan sebesar 400 juta tahun 2007 dan 200 juta di tahun 2008. Sejak tahun 2008 sebanyak 22 Puskesmas yang berada di 12 kecamatan telah tersambung jaringan. Ini merupakan sesuatu tantangan yang begitu berat dirasakan mengingat kondisi permukaan tanah di daerah ini yang selain berada di ketinggian ,juga tidak rata dan banyak terhalang gunung serta bukit. Namun justru kondisi inilah yang mungkin menyebabkan dana mengucur dari UNICEF pada awalnya dan keberhasilan project ini diharapkan menjadi pilot project (project percontohan) bagi daerah lain. Untuk jasa pemberi layanan (provider) sejak tahun 2008 mulai menggunakan Speedy yang merupakan salah satu dari anak perusahaan milik Telkom, yang dinilai lebih sesuai untuk daerah ini.

Secara organisatoris bagian yang mengurusi Sistem Informasi Kesehatan masih berada di bawah Bagian Tata Usaha yaitu Pelaporan. Namun untuk lebih memperkuat kedudukan seksi ini sejak tahun 2008 telah ditetapkan struktur organisasi baru dengan nama Seksi Surveillance dan SIK. Seksi ini berada di bawah Subdin P2P Dinas Kesehatan dan Kessos Kabupaten Wonosobo.

Adalah Pak Wajiran-lah, orang yang paling banyak berjasa dan berkecimpung di dalam pengelolaan sistem di Wonosobo tersebut. Sampai-sampai dikhawatirkan Alhiko dalam sesi diskusi dengan Kepala Dinas di Aula Dikes dan Kessos, bahwa keberadaan beliau ini harus memiliki pendamping, dalam arti janganlah menjadi “single fighter” tapi harus mulai melakukan regenerasi kepada orang lain agar sistem yang dibangun dengan susah payah dan dengan biaya yang begitu besar tersebut tidak terbengkalai dan tetap berlanjut (sustainable).

Masukan yang lain dari P Sil, P Joe n P Moeslim (Calon Sekda Bintan.. semoga…. Amin) yang intinya mengapresiasi terhadap pengelolaan SIM di Wonosobo, yang walaupun berawal dari ketidaksiapan dan sedikit keterpaksaan, namun sekarang sudah dapat dinikmati dan bahkan ke depan akan dikembangkan bersama-sama dengan Pemda Kabupaten dan dinas lain, sementara sekarang saja sudah dapat memberikan manfaat bagi beberapa SMP dan Kantor Catatan Sipil. Tidak menutup kemungkinan pengelolaan SIM-SIM yang lain misalnya SIMDUK (SIM Kependudukan/pembuatan KTP) juga akan menggunakan tulang punggung (backbone) jaringan yang dirintis dan dibangun oleh Dinkes dan Kessos ini. Mudah-mudahan hal ini bukanlah sekedar asa yang tak tergapai dan yang pasti merupakan proses pembelajaran berharga bagi warga SIMKES 2007 dalam rangka mengembangkan sistem di institusi sekembalinya ke daerah masing-masing kelak. Tentu saja yang dibutuhkan adalah orang yang “gila” seperti Pak Wajiranlah, apabila para warga SIMKES yang ingin mengembangkannya. Sanggupkah …..???


Responses

  1. selamat malam pak saya Yoyok warnoto dari akper pemprop jateng yang satya komentator tentang masalah gizi pada anak balita. yaitu akhir-akhir ini banyak tenaga kesehatan yang menangani tidak dari penyebabnya, kebanyakan para tenaga kesehatan menangani masalh -masalah itu lang dari penderitanya saja sedangkan penyebab penyakit itu terjadi tidak tertangani. banyak yang membiarkan/menyepelekan tentang penyebab masalah tersebut. menurut bapak bagaimana mengenai hal tersebut. terimakasih

    Saya sudah balas lewat e-mail silakan dibaca jawaban saya Tk… SW


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: