Oleh: ilowirawan | November 4, 2012

Kunjungan ke Tanjungsari dan Bandung

Salah satu kegiatan short course yang saat ini aku ikuti di SEAMEO Recfon adalah kunjungan lapangan (field study) di Kecamatan Tanjungsari, Sumedang Jabar. Hari Sabtu 3 November 2012 kemarin kamipun menuju lokasi tersebut dan berangkat dari Jakarta pukul 06.00 WITA menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam. Setiba di lokasi yang berdekatan dengan Kampus STPDN tersebut kami dibagi menjadi 3 kelompok secara acak dan diberikan questioner untuk responden yang hendak ditemui.

Di kelompok III (Kelompok saya) kami menemui dan bertanya pada kader dan responden. Dari paparan Pak Hidayat (koordinator lapangan) pada survey cohort selama 20 tahun tersebut terungkap beberapa hal. Di antaranya bahwa survey tersebut dilaksakanan oleh WHO bekerjasama dengan Unpad (Universitas Padjajaran) Bandung. Pemilihan tempat oleh WHO ini, masih menurut P Hidayat berdasarkan 3 kriteria yaitu satu negara miskin (yang baru merdeka), satu negara berkembang dan satu lagi negara maju. Indonesia termasuk dalam Negara katagori 2 (sedang berkembang/developing countries). Penelitian dilakukan mulai dari tahun 1988 di mana sampel yang dipilih adalah seluruh anak (laki-laki maupun perempuan) yang dilahirkan antara tahun 1988-1989 dan diikuti selama 20 tahun (penelitian berakhir tahun 2009).

Di kesempatan itu kami juga mewawancarai salah seorang responden (lahir 1988-1989) yang saat ini juga telah memiliki anak serta seorang kader desa bernama Ibu Nani Suryani. Menurut ibu kader desa yang ramah tersebut pekerjaan ini telah dilakoninya sebenarnya bukan dari  awal namun melanjutkan tugas kakanya yang juga menjadi kader namun meninggal di tahun 2002. Banyak sekali suka dan duka dipaparkan kader yang masih cukup energik di usianya yang sudah mulai senja tersebut. Pengabdian dengan penuh keikhlasan dia jalani hari-hari saat mengunjungi responden untuk mendapatkan data anthropometri serta data kesehatan responden.  Beberapa ketrampilan praktis pengukuran anthropometri memang diajarkan bagi para kader desa dan setiap bulan sekali data tersebut dikumpulkan pada pertemuan yang diselnggarakan di Puskesmas Tanjungsari melalui P Hidayat.

Setelah kegiatan wawancara dan kunjungan lapangan di Tanjungsari, sebelum menempuh perjalanan menuju Bandung kami singgah sejenak di Masjid Besar Tanjungsari, Sumedang untuk menunaikan shalat Dzuhur dan Ashar dan sempat “take a picture” sejenak bersama sahabat dari negara jiran (tetangga) yaitu Noorsal (Brunai Darusalam) dan Lorn Vichet (Cambodia). Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Bandung untuk sekedar berfoto-foto di seputaran Gazibu dan Gedung Sate. Di Gedung yang merupakan bekas bangunan Belanda tersebut masih tertata cukup apik dan terawat dengan baik. Bahkan gedung yang bernah dipakai untuk Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 tersebut saat ini masih dipergunakan sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat. Pada kesempatan itu rombongan kami dipersilakan masuk ke dalam gedung dan menuju puncak menara di mana di sini dapat melihat landscape kota Bandung dari ketinggian. Di sini konon dulunya dipakai oleh Residen Belanda dalam mengamati seluruh kawasan Bandung.

Sebelum pulang ke Jakarta kembali kami sempatkan mampir di kawasan Dago. Sebuah tempat ramai yang juga dipakai sebagai kawasan bagi para keturunan Belanda dan sekarang berubah sebagai kawasan bisnis. Di sini beberapa oleh-oleh dan souvenir bisa dibeli sebagai buah tangan kembali ke Jakarta.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: